Mengapa Baitul ‘Amal?

Cermatilah dua cerita berikut. Cerita pertama tentang dua orang pekerja yang tengah mengangkut batu dan bata. Pekerja yang satu terlihat lebih ceria, sementara seorang pekerja lainnya justru bermuram durja. Seorang musafir yang memperhatikan keduanya, sejenak berhenti dan bertanya. Kepada pekerja bermuram durja ia berkata: “Mengapa wajahmu begitu cemberut dan penuh duka?” Pekerja itu menjawab: “Tidakkah kamu lihat? Hidupku hanya mengangkut batu dan bata.” Musafir kembali bertanya hal yang sama pada pekerja yang berwajah ceria: “Dan kamu, mengapa raut mukamu begitu suka cita, padahal engkau mengangkut batu dan bata yang sama?” Pekerja kedua menjawab: “Tidakkah kamu lihat? Aku sedang membangun sebuah katedral yang perkasa!”

Pertanyaan boleh sama, tetapi jawaban bisa berbeda. Pekerja pertama hanya mampu memandang sebatas mata. Pekerja kedua mampu menarik impian seluas samudra. Pekerja pertama hanya mengeluhkan beban yang menimpanya. Pekerja kedua membayangkan bahwa ia tengah membangun sebuah rumah untuk Tuhan. Pekerja pertama hanya memperoleh hasil sehari bekerja. Pekerja kedua memahami makna ‘amal jariyah yang sebenarnya.

Cerita kedua. Alkisah, seekor burung merpati terbang sangat tinggi, membelah angin memecah awan. Sampailah ia ke tepian lautan. Ia meliuk dengan cepat, menyaukkan air ke paruhnya, dan kembali terbang ke langit tinggi. Ia membelah angin, ia memecah awan. Tiba-tiba hawa panas terasa semburat di sekitarnya. Ia sudah sampai di tujuannya. Dengan sisa- sisa tenaganya, ia jatuhkan air ke arah api membara yang jauh di bawahnya, berharap dapat memadamkannya. Setelah air ia curahkan, kembali ia ke tepian lautan, membelah angin, dan memecah awan. Berulang-ulang ia lakukan.

Nun jauh di bawahnya, dalam lumatan api yang perkasa, ada hamba Allah yang sangat setia. Dialah Ibrahim alaihisalam, yang tengah dilumat api Namrudz yang kejam. Alam semesta terpana melihat kesungguhan sang merpati. Tetumbuhan membisu. Hewan yang cemburu berkata menghina, “Hai burung kecil, air yang kau bawa takkan mampu memadamkan api Namrud. Sia-sia saja usahamu. Percuma!”

“Saudara”, dengarlah suara burung kecil yang mengguncang semesta, “Aku tahu, paruhku sempit. Aku tahu air yang bisa kubawa hanya sedikit. Tapi, sungguh, demi Tuhan, aku ingin tercatat, sebagai hamba yang pernah berusaha untuk memadamkan api yang membakar kekasih-Nya! Aku ingin tercatat sebagai hamba yang pernah memberikan sumbangsih di jalan-Nya.”

Dengan visi sang pekerja kedua dan semangat merpati yang luar biasa, kami berikhitiar untuk mendirikan Baitul Amal. Rumah yang dibangun dengan batu-bata yang kecil, yang dibawa puluhan pundak manusia, untuk menjadikannya sebagai “Katedral” yang melindungi hamba-hamba Allah, dan membantu mereka yang memerlukan sambungan tangan. Kami tahu kami tak mungkin meringankan beban berat dari seluruh ujian yang diberikan pada manusia. Kami ingin jadi burung kecil yang berusaha untuk meringankan kesulitan sesama, sekecil apa pun kontribusi yang bisa kita berikan.

Aku ingin tercatat sebagai hamba yang pernah memberikan sumbangsih di jalan- Nya.